Pengalihan Subsidi BBM dan Kesempatan Memperbaiki Negeri

Gatel juga,

Lihat orang-orang pada update pendapat tentang kenaikan harga subsidi BBM. Dari pagi sampe sekarang jam 15.38 demo tiada henti di depan kantor, jadilah pengen ikutan nulis beberapa hal juga terkait pengalihan subsidi BBM ini, hehe.

Jadi, tadi malam, Bapak Presiden RI yang terhormat, Joko Widodo mengumumkan pengalihan subsidi BBM dari sektor konsumtif menjadi sektor produktif. [1] Kalau yang saya lihat, maksudnya selama ini kan penggunaan subsidi BBM hanya habis buat dipakai sebagai bahan bakar, nyalain mobil, dibakar deh itu bensinnya, poof, it’s gone. Daripada seperti itu terus menerus, Pak Jokowi dan timnya befikir, how about we redirect the subsidy to other important things, for example for infrastructure.

Banyak yang bilang sekarang harga minyak kan turun, kenapa malah subsidinya ditarik? Kondisi hari ini, Harga minyak mentah Brent di harga USD 79,41. That is, my friend, dangerous. Pertama kenapa harga minyak mentah bisa turun? Beberapa hal antara lain, Importir besar minyak memutuskan untuk mengurangi jumlah impor minyak mereka karena Amerika Serikat sekarang sudah memulai untuk memakai energi yang berasal dari bumi mereka. Saat ini juga US lagi gencar-gencarnya meningkatkan produksi Shale Gas (Ancaman lain buat Indonesia). China pun begitu, mungkin dengan alasan ekonomi kedua negara adidaya itu lagi mikir ulang bagaimana paling baik mengutilize energi mereka. Jadilah permintaan akan minyak turun, dan dengan hukum ekonomi, harga minyak mentah otomatis turun. Dan seperti yang saya bilang, sebenarnya ini justru bisa dibilang ancaman, kenapa? Karena, bilanglah Indonesia seneng harga minyak turun jadi subsidi ga bengkak-bengkak amat dan Indonesia ga siap-siap mengembangkan energi lain karena tergantung minyak, akan ada satu masa dimana (karena harga minyak murah dan relatively mentransport liquid fuel itu jauh lebih mudah dan menguntungkan dibanding bentuk lain) semua negara akan beli lagi minyak mentah dengan kuantitas banyak, dan boom, harga minyak tinggi lagi, Indonesia babak belur deh bayar subsidi BBM. duar, chaos. Jadi gimana dong?

Saya sangat sepakat Indonesia harus beralih ke sektor produktif, khusunya, pada pengembangan energi lain. Sebagai contoh, liat baik-baik saudara-saudara gambar dibawah ini,

Screen Shot 2014-11-18 at 2.44.29 PM
Kondisi Eksisting Infrastruktur Gas Indonesia

Nah, sedih ga liatnya? Saat ini Indonesia bagian barat sudah cukup terdevelop dengan baik, walaupun pipa di Kalimantan, Sumatera, dan Jawa belum tersambung. Tapi coba lihat sebelah kanan, kosong.

Sedih.

Lalu untuk fasilitas LNG Plant, kita baru punya 3, di Bontang, Tangguh, dan Arun. Itupun, Arun per Oktober 2014 kemarin sudah berhenti beroperasi, sekarang cuma jadi fasilitas regasifikasi doang. Kenapa sebelumnya kok ga ada yang ngembangin? Karena walaupun harga gas sudah lebih murah dari harga minyak, tapi demand nya tetap belum besar, itulah mengapa kita sering denger kebanyakan gas itu diekspor, karena buat domestik demandnya belum besar, sedang gas itu kalau sudah di utilize harus segera dipakai gabisa disimpen kayak minyak, jadilah diekspor.

Tetapi oh tetapi, ada ancaman lain, yaitu yang bernama Shale Gas! (Apa itu Shale Gas? Singkatnya ini tuh gas, hanya lebih murah gitu, sisanya please googling sendiri ya kawan-kawan, hehe). Ceritanya US ini sudah berhasil menemukan teknologi untuk mendevelop shale gas, kalau sampai shale gas masuk market, bisa gawat. And they’re about to. Screen Shot 2014-11-18 at 3.07.20 PMKalo dilihat dari gambar diatas, gambar sebelah kiri itu kondisi ekspor/impor sekarang, Indonesia merupakan salah satu negara eksportir besar untuk gas. JIKALAU, shale gas US ini into market, kondisinya bisa jadi yang sebelah kanan, US yang akan ekspor ke negara-negara yang tadinya jadi langganan kita. Nah kenapa bisa gitu? Soalnya Harga gas Indonesia tuh sekarang sekitar USD 17/MMBTU sampai di konsumen, sedang US shale gas itu bisa cuma USD 8-10/MMBTU, jauh kan, pasti negara-negara macam Korea, Jepang yang awalnya langganan kita bakal pindah kesana karena harganya relatif jauh lebih murah. NAH KITA GIMANA DONG! Kan salah satu pendapatan besar kita dari ekspor gas, kalo ekspor menurun, kita mau ga mau harus mengutilize gas di dalam negeri, kalau infrastruktur dalam negeri belum siap? Boom. Gas nya terbuang gitu aja.

Sedih.

Sebenernya Indonesia juga punya banyak sekali cadangan Shale Gas, sekitar 574 TCF, itu setara 98 miliar Barel Oil Equivalent. (KURANG BANYAK APA COBA ITU), tapi lagi-lagi sayangnya, kita belum punya teknologi buat eksplorasi shale gas sekarang karena eksplorasinya relatif hightech.

Dan itu pentingnya subsidi BBM perlu dialihkan, supaya Indonesia bisa fokus membangun infrastruktur energi yang lain. Another case? Energi terbarukan dong. Memang untuk sekarang ngomongin renewable energy tuh rasanya jauuuh banget. Pengembangan masih relatif mahal, udah gitu untungnya juga ga gede-gede amat. Tapi bagusnya, punya renewable energy tuh jadi ga depend sama dunia luar sana, harga minyak naik, sebodo teuing; harga gas naik, suka suka lo. Kita semua udah tau, Indonesia is blessed by the richness of natural resources especially in renewable energy. Tapi sekali lagi, sayangnya pengembangan belum terlalu serius digarap sama pemerintah. Kalo dalam angka, bisa dilihat di tabel dibawah. Masih jauh? Iya. Tapi masih ada harapan. Btw kemarin atasan saya bertemu dengan Perdana Menteri Islandia. Terus pas delegasi dari beberapa negara lagi pada ramai ngomongin minyak mentah, si perdana menteri Iceland ini bingung, kenapa kok ramai-ramai, terus bos saya bilang tentang harga minyak dunia yang turun, dia bilang “Wah saya malah kurang paham” sambil tertawa. Ternyata di Iceland hampir 90% energinya pake energi terbarukan (How cool is that). Emang sih jadi ga gaul sama delegasi lain, tapi kan yang penting rakyatnya ga sengsara. Harusnya bukan mimpi Indonesia bisa jadi seperti itu suatu saat nanti.

Jadi pertanyaan besarnya, Kenapa gas dan renewable energy ini belum berkembang? Salah satu alasan kuatnya adalah karena subsidi BBM. Dengan harga yang kemarin, orang-orang cenderung ‘malas’ beralih ke energi lain karena yang namanya berpindah itu kan human nature nya bikin ga nyaman. Bayangin aja dengan harga bahan bakar gas IDR 3.100, belum menarik orang buat pindah dari bbm ke bbg. Itu baru transportasi, belum dari pembangkit listrik yang dieselnya juga disubsidi. Harapannya dengan pengalihan subsidi BBM ini orang-orang mau tak mau berpindah ke sumber energi lain.

Memang tidak mudah dan bikin tidak nyaman, but it’s for greater good kok. Makanya selain berdoa kepada Tuhan supaya subsidi dialihkan ke pengembangan hal-hal diatas, buat yang tertarik energi-energian, segera jadi bagian dari solusi.

Yuk!

Dari Silang Monas,

RF

*Btw semua hitung2an diatas rada kasar sih soalnya kalo yang detail harus minta sama Yang Diatas dulu.

*Masih di dalam kantor dengan kondisi alhamdulillah aman sambil menengok keluar sesekali melihat para pendemo menghisap sepuntung rokok (asumsikan mampu beli) seharga IDR 16.000 sambil protes harga BBM naik jadi IDR 8.500.

[1] http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/07/21/dana-pengalihan-subsidi-bbm-mesti-dukung-mobilitas-sosial

Advertisements

One thought on “Pengalihan Subsidi BBM dan Kesempatan Memperbaiki Negeri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s