Miskin = Malas? – dari seorang teman

Tulisan ini saya copy dari tulisan Muhammad Akhyar. (UI/2006)

enjoy everyone 🙂


ayahku adalah lelaki yang gemar menanam hujan di doa ibu

pagipagi sekali ia sudah bangun, berwudhu, lalu sujud sambil berdoa agar tanah mau menerima pinangannya

Beberapa waktu terakhir ini aku merasakan perih, pedih di sekeliling tubuhku. Mungkin tepatnya di hati. Beberapa waktu belakangan ini aku hampir tak mampu berdiri menatap pagi, selalu nanar. Beberapa waktu. Ah, sudahlah, aku tak mau juga berpanjang kalam, membuat kalian yang membaca menjadi marah padam.

Suatu ketika aku membaca beberapa ujaran teman-teman di lini masa jejaring sosial mereka. Mereka tampaknya sedang asyik masyuk mempersalahkan orang miskin di negeri ini. Membicarakan kemalasan orang-orang miskin di negeri ini lebih tepatnya. Ah, ingin kusumpal saja mulut mereka, tetapi buru-buru kuurungkan niatku, jelas itu tak akan banyak bermanfaat karena sekarang bukan lagi masanya lidah untuk mengumpat, jarilah yang menggantikannya. Lidah hanya perlu mengerjakan tugasnya dalam perkara jilat-menjilat. Tentu dalam pengertian harfiah.

Boleh jadi mereka ada benarnya. Bahwa orang miskin itu terus miskin karena mereka malas. Tak mau membanting tulang. Tak mau kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Tapi, ah mengapa itu tak kutemukan pada orang yang kuyakin sekarang masih berada di ladangnya. Menyangkul petak-petak sempit itu seorang diri ditemani pekik lutung yang sesekali menunjukkan anak yang baru dilahirkannya. Yang senantiasa kebingungan ketika harga gabah begitu mahal ketika musim menanam dan ia membutuhkannya dan tak bisa berbuat apa-apa ketika gabah mendadak turun saat panen tiba. Ketika langit mulai merona merah barulah ia membersihkan diri, bergegas pulang untuk menjadi imam Maghrib berjamaah di masjid samping rumah.

Adakah bisa tak sakit hatiku, ketika teman-temanku itu masih saja mencela orang-orang miskin karena hanya bekerja keras tak pernah bekerja cerdas. Hanya pakai otot nyaris tanpa otak. Duhai kawan, mungkin saja kamu benar. Hanya, tak sampai hati kubilang seperti itu pada pria itu. Pria yang hampir setiap hari berangkat ketika langit masih gelap. Entahkan hujan rintik turun atau hanya lembab embun. Pria yang tak kuasa meneriakkan protes entah pada siapa tentang betapa mahalnya pupuk yang perlu ditabur di tanahnya. Pria yang tak pernah tahu, bagaimana cara memberi masukan ke pemerintah bagaimana cara untuk menurunkan harga pembasmi hama. Pria yang nyaris tak terpikirkan untuk mencaci yang berkuasa karena tak ada jalan dan angkutan yang baik untuk membawa bulir-bulir padinya dari tanah berlumpur ini. Bagaimana mungkin pria yang setiap hari membangunkan ibuku itu, membasuh matanya dengan doa-doa di sepertiga malam itu kusebut dengan nyaris tanpa nurani, sebagai pria tak berotak.

saat ufuk terbelah, ayahku sudah berada di kebunnya

cangkul dipapahnya, dan benihbenih hujan

masih berada disebuah kantong yang ia ikat dengan sempurna

sesempurna jabat ibu yang melepas ayah dari pakaian dapurnya yang tegar

Ah, aku bayangkan sekarang pria itu dengan sisa kegagahannya mulai menatap ke Timur. Seakan tak ia biarkan matahari mendatanginya, ia yang harus segera menjemput benda itu. Menarik-nariknya dari peraduan semalam suntuknya. Kadang kasihan juga aku pada matahari, mungkin saja ia belum lepas dari kantuknya. Apa boleh buat lelaki miskin itu tak kuasa menahan senyum, ingin segera menghampiri kebun. Tentu saja dengan bekal jabat tangan istrinya yang senantiasa bersetia menyiapkan beberapa potong ubi goreng dan teh manis hangat. Ah, selalu sempurna, meski tak seberapa jika memakai perhitungan harga.

Pernah aku bertanya pada laki-laki yang aku rindukan genggam tangannya itu, mengapa ia tak beralih kerja ke tempat yang tak membuat tubuh terlalu lelah. Ia pun segera menjawab tangkas ujaranku dengan telak, bahwa Tuhan tak akan pernah mengecewakan hambaNya, bahwa kitalah yang lebih sering kecewa ketika takdir itu belum sepenuhnya berakhir. Aku terpukul, pendidikan tinggiku tak berkutik.

Jelas aku bisa melanjutkan pendidikan sejauh ini, merantau sejauh ini, bertahan sejauh ini, dari belas kasih takdir tetapi bagaimana aku tega untuk mengatakan bahwa pria ini mengabaikan pendidikanku. Ketika aku mengatakan padanya, bukankah jika bekerja di tempat yang lebih baik mungkin akan mendapat penghasilan lebih baik dan bisa untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Lalu ia menyambung kembali, ah, tak kuasa sebenarnya aku melayangkan jari menulisnya, ia hanya berkata maafkan saya, saya hanya tak tahu jika saya tak melakukan ini tanah itu akan menjadi telantar, tidak ada yang mau mengurusnya. Saya diberi amanah untuk mengurusnya, saya pun diberi amanah untuk mengurusmu, saya sedapat mungkin menyelesaikan dua-duanya sebaik-baiknya, menurut saya.

ayahku menanam hujan dengan sangat hatihati

sebagaimana ia hatihati menyimpan ibu

dalam setiap benih hujan yang mekar

yang ditanaminya dengan tangannya sendiri, seperti waktu menanam ibu.

 

Aku pun merenung kembali, jika semuanya pastilah berpikir untuk keluar dari jerat kesusahan. Mungkin mereka hanya tak tahu cara terbaik meninggalkan yang sudah dikerjakan saat ini. Atau mungkin mereka hanya tak bisa meninggalkan apa yang sedang dikerjakan saat ini. Coba kita bayangkan, siapa pula yang mau bergumul dengan lumpur setiap hari. Coba pikirkan, siapa pula yang tak risih memaksa kaki masuk ke dalam comberan sepanjang matahari terlihat. Lalu, coba bayangkan, kalau semua sudah tak mau lagi berpeluh lumpur, bermandi kotoran, siapa yang akan melakukan itu. Siapa.

Ah, pria itu masih saja dengan hati-hati menyiapkan istrinya untuk kuat. Bahwa hidup ini bukan perkara angka-angka. Ia tetap saja masih punya waktu membuatkan anak-anaknya layangan indah dengan tangannya sendiri. Sebagaimana ia hati-hati di sepuluh hari terakhir Ramadhan, mendekat pada ibunda, membawa beberapa meter kain untuk dijadikan pakaian baru di saat lebaran tiba.

Lalu, tegakah aku mengatakan pria ini tak ber…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s